Warisan Mohammad Natsir Terus Menginspirasi Lintas Generasi, Tokoh GPII Bukittinggi Berziarah
BUKITTINGGI, iNewsPadang.id — Warisan pemikiran dan keteladanan Mohammad Natsir dinilai tetap menjadi rujukan lintas generasi. Dalam rentang sekitar satu bulan, makam negarawan, ulama, sekaligus pemikir Islam tersebut di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, diziarahi oleh dua tokoh dari latar belakang berbeda sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya terhadap agama, bangsa, dan negara.
Pada 30 Juli 2026, tokoh Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Kota Bukittinggi, Riyan Permana Putra, S.H., M.H., mendatangi makam H. Mohammad Natsir Dt. Sinaro Panjang untuk memanjatkan doa dan mengenang perjuangan salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Sebelumnya, pada 24 Juni 2026, Yusril Ihza Mahendra juga melakukan ziarah ke makam yang sama menjelang ujian promosi doktor filsafatnya di Universitas Indonesia.
Bagi Riyan, ziarah tersebut selain untuk mengenang sejarah, juga menjadi momentum untuk mengambil hikmah dari pengabdian Mohammad Natsir kepada agama, bangsa, dan negara.
Menurutnya, Mohammad Natsir tidak hanya dikenang karena keluasan pemikirannya, tetapi juga karena integritas, kesederhanaan, serta konsistensinya dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagai tokoh GPII Kota Bukittinggi, Riyan juga menilai pemikiran Mohammad Natsir memiliki hubungan historis dengan perjalanan gerakan dakwah dan kepemudaan Islam di Indonesia. Ia mengatakan, melalui kiprahnya di Partai Masyumi, Mohammad Natsir banyak membina dan menginspirasi kader-kader muda Islam yang kemudian berkiprah di berbagai organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan, termasuk GPII.
"Sebagai bagian dari keluarga besar GPII, saya memandang Mohammad Natsir sebagai salah satu tokoh bangsa yang mewariskan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan intelektualitas. Semangat dakwah, pendidikan, ukhuwah, serta pengabdiannya menjadi inspirasi bagi kader-kader GPII untuk terus berkontribusi bagi agama, bangsa, dan negara," ujar Riyan, Minggu (2/8/2026).
Ia menambahkan, Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi muda yang menjadikan ilmu pengetahuan, akhlak, integritas, dan pengabdian sebagai fondasi perjuangan. Menurut Riyan, kecintaan terhadap ilmu, persatuan umat, demokrasi yang berlandaskan moral, serta komitmen menjaga keutuhan NKRI merupakan nilai-nilai yang diwariskan Mohammad Natsir dan terus ditanamkan dalam proses kaderisasi GPII.
Sebelumnya, Yusril Ihza Mahendra menyampaikan bahwa ziarah yang dilakukannya merupakan bentuk penghormatan kepada Mohammad Natsir yang telah menginspirasi perjalanan intelektualnya, khususnya menjelang mempertahankan disertasi doktor filsafat mengenai pemikiran Natsir tentang relasi Islam dan negara.
Rangkaian ziarah yang berlangsung dalam waktu berdekatan tersebut menunjukkan bahwa sosok Mohammad Natsir masih mendapat penghormatan dari berbagai kalangan. Meski dilakukan dalam konteks dan kepentingan yang berbeda, kedua ziarah tersebut sama-sama menempatkan Mohammad Natsir sebagai figur yang pemikiran dan keteladanannya terus dikenang.
Lebih dari tiga dekade setelah wafatnya, nama Mohammad Natsir tetap hadir dalam ruang intelektual, dakwah, dan kebangsaan. Bagi sebagian kalangan, warisan pemikirannya masih menjadi rujukan dalam membangun tradisi keilmuan, memperkuat nilai moral, serta menumbuhkan semangat pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara.
Editor : Wahyu Sikumbang