“Bagus untuk motorik dan mental anak. Yang awalnya tidak mau ramai-ramai, sekarang sudah terbiasa berinteraksi dengan teman-temannya. Fisiknya juga jadi lebih sehat dan kuat,” kata Beni. Selain mengikuti latihan komunitas, orang tua juga menerapkan latihan tambahan di rumah agar anak tetap aktif.
Sementara itu, pelatih push bike Rangga menjelaskan bahwa pola latihan difokuskan pada penguatan otot kaki dan tangan agar anak mampu mendorong sepeda dengan stabil dan tahan lama.
Anak-anak Komunitas Push Bike Bukittinggi mengikuti latihan rutin balance bike di Lantai IV Gedung Parkir depan Kantor DPRD Bukittinggi, didampingi pelatih dan orang tua, Rabu (21/1/2026). Foto: Wahyu Sikumbang
Tantangan utama dalam proses latihan adalah mengelola emosi dan fokus anak-anak, terutama saat sesi peregangan.
“Kadang ada anak yang menangis saat stretching karena memang butuh kekuatan fisik. Di sini kesabaran kami diuji, apalagi anak-anak masih sangat kecil,” ujarnya.
Dengan pendampingan orang tua di setiap sesi latihan serta jadwal rutin yang konsisten, Komunitas Push Bike Bukittinggi optimistis dapat terus mencetak anak-anak yang sehat, percaya diri, dan memiliki pondasi kuat untuk berkembang ke jenjang olahraga berikutnya.
Anak-anak binaan Komunitas Push Bike Bukittinggi berpose bersama piala kejuaraan yang berhasil diraih, sebagai hasil dari pembinaan rutin olahraga balance bike sejak usia dini. Foto: Wahyu Sikumbang
Editor : Wahyu Sikumbang
Artikel Terkait
