BUKITTINGGI, iNewsPadang.id – Gunung Marapi yang berada di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Sumatera Barat, kembali mengalami erupsi pada Rabu, 13 Mei 2026, sekitar pukul 12.53 WIB. Letusan terekam di alat seismograf dengan amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi sekitar 30 detik.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi melaporkan tinggi kolom abu dari erupsi tersebut tidak dapat teramati karena kondisi cuaca. Meski demikian, aktivitas vulkanik Gunung Marapi masih berada pada Status Level II atau Waspada.
Sebelum erupsi terjadi, aktivitas Gunung Marapi memang menunjukkan peningkatan kegempaan vulkanik. Dalam laporan pengamatan periode 12 Mei 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, tercatat satu kali letusan dengan amplitudo 15,4 milimeter dan durasi 38 detik. Selain itu, petugas juga mencatat dua kali hembusan, satu tremor non-harmonik, satu gempa vulkanik dangkal, empat gempa tektonik lokal, serta empat gempa tektonik jauh.
Secara visual, asap kawah terpantau berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang setinggi sekitar 200 meter di atas puncak kawah. Kawasan gunung juga diguyur hujan dengan intensitas gerimis hingga sedang.
Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali mengalami erupsi pada Rabu siang dengan durasi sekitar 30 detik, namun, tinggi kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut, Rabu (12/5/2026. (Foto: PVMBG, Pos PGA Marapi)
Kepala Pos PGA Marapi di Belakang Balok, Bukittinggi, Ahmad Rifandi, mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu langsung dari Gunung Marapi.
“Sering turun hujan di sekitar lereng Gunung Marapi, harap tingkatkan kewaspadaan terutama untuk warga yang tinggal di dekat bantaran sungai yang berhulu langsung dari Gunung Marapi,” ujarnya dalam laporan resmi pengamatan aktivitas gunung api.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat, pendaki, maupun wisatawan agar tidak memasuki kawasan dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi atau Kawah Verbeek. Warga juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar, terutama saat curah hujan tinggi terjadi di kawasan lereng gunung.
Selain itu, masyarakat diminta menggunakan masker apabila terjadi hujan abu guna menghindari gangguan saluran pernapasan. Warga juga disarankan melindungi sumber air bersih serta membersihkan timbunan abu vulkanik di atap rumah untuk menghindari risiko bangunan roboh.
PVMBG turut mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah maupun petugas kebencanaan.
Editor : Wahyu Sikumbang
Artikel Terkait
