get app
inews
Aa Text
Read Next : Resmikan Pusat Ekonomi, Mendikdasmen Dorong Pesantren Jadi Motor Kemandirian Umat

Ongkos Laundry Naik Dampak Lonjakan Harga Plastik,Jumlah Pelanggan Turun Hingga 30 Persen

Rabu, 22 April 2026 | 17:34 WIB
header img
Aktivitas di salah satu usaha laundry di Payakumbuh. Kenaikan harga plastik dan bahan pendukung membuat pelaku usaha menaikkan tarif, berdampak pada penurunan pelanggan. (Foto: iNews Payakumbuh).

PAYAKUMBUH,iNewsPadang.id - Tekanan biaya operasional mulai dirasakan pelaku usaha laundry di Kota Payakumbuh. Kenaikan harga plastik sebagai bahan penunjang utama memicu penyesuaian tarif jasa, yang berdampak langsung pada penurunan jumlah pelanggan.

Salah satu pelaku usaha yang terdampak, yaituExcito Laundry. Pemiliknya, Putri Yulia, mengungkapkan bahwa lonjakan harga plastik dalam beberapa bulan terakhir cukup signifikan dan membebani biaya produksi.

“Dulu harga plastik pembungkus laundry Rp33.000 per kilogram, sekarang naik menjadi Rp50.000. Untuk plastik pembawa yang warna biru juga naik, dari Rp38.000 per pak sekarang Rp60.000 per pak,” ujar Putri saat ditemui, Senin (21/4/2026).

Menurutnya, kenaikan harga tersebut tidak bisa lagi ditutupi dengan strategi efisiensi biasa. Jika sebelumnya pihaknya masih mampu menahan tarif, lonjakan biaya kali ini memaksa penyesuaian harga jasa.

“Kalau naiknya cuma sedikit mungkin masih bisa kami tahan. Tapi karena naiknya cukup banyak dan mengganggu biaya operasional, akhirnya harga laundry terpaksa kami naikkan,” katanya.

Saat ini, tarif cuci lipat di usahanya naik dari Rp5.000 menjadi Rp6.000 per kilogram. Sementara jasa setrika meningkat dari Rp4.000 menjadi Rp5.000 per kilogram.

Tidak hanya plastik, kenaikan juga terjadi pada bahan lain seperti sabun dan pewangi pakaian. Namun, Putri menegaskan bahwa kualitas layanan tetap menjadi prioritas utama.

“Selain plastik, sabun dan pewangi juga naik. Tapi kami tidak mau menurunkan kualitas produk. Sabun dan parfum tetap kami pakai yang premium untuk menjaga kualitas, jadi yang dinaikkan adalah ongkos laundry,” jelasnya.

Meski tarif telah disesuaikan, margin keuntungan justru semakin tertekan akibat tingginya biaya operasional. Di sisi lain, dampak kenaikan harga juga dirasakan dari berkurangnya jumlah pelanggan.


“Kalau tidak dinaikkan, biaya operasional tidak tertutup. Kalau dipaksakan, nanti bisa berdampak ke kualitas seperti pengurangan sabun, dan itu tidak mau kami lakukan. Jadi kualitas tetap kami pertahankan walaupun keuntungan jadi tipis,” ungkapnya.


Dia menyampaikan, sejak kenaikan tarif diberlakukan, jumlah pelanggan menurun hingga sekitar 30 persen. “Setelah harga naik, ada penurunan konsumen sekitar 30 persen. Tapi kami berharap pelanggan mengerti karena kenaikan ini memang karena biaya operasional naik,” katanya.

Di sisi konsumen, sebagian pelanggan memahami kondisi tersebut. Deby, salah seorang pelanggan, menilai kenaikan tarif masih dapat diterima selama kualitas layanan tidak berubah.“Itu sah-sah saja selama kualitasnya tidak berkurang, kami terima saja. Karena sekarang memang banyak harga kebutuhan yang naik,” ujar Deby.

Kondisi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi pelaku usaha kecil di tengah fluktuasi harga bahan baku. Di satu sisi harus menjaga kualitas, di sisi lain menghadapi risiko penurunan pelanggan akibat penyesuaian harga.

Editor : Agung Sulistyo

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut