AGAM, iNEWSPadang.ID — Hunian tetap bagi korban banjir bandang Sungai Landia resmi diresmikan di Jorong Kampuang Ateh, Nagari Sungai Landia, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Senin, 12 Januari 2026. Program ini menjadi yang pertama dan tercepat di Sumatera Barat dalam pemulihan tempat tinggal korban bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada November 2025.
Hunian tetap ini diinisiasi oleh Yayasan Anshorullah Peduli Negeri (ASHPEN) selaku Lembaga Amil Zakat, diprakarsai pembinanya Zulfamiadi, bekerja sama dengan Karang Waluh Group dari Kalimantan Selatan serta Ikatan Keluarga Minang (IKM). Rumah tersebut diperuntukkan bagi Erni Yuniarti, warga dhuafa yang rumahnya hanyut diterjang banjir bandang di Kampung Baru, kawasan bantaran sungai Sungai Landia.
Peresmian sekaligus penyerahan kunci dilakukan oleh Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Kadis Perkim) Sumbar, Ahdiyarsyah. Ia menyebut pembangunan hunian tetap oleh Ashpen sebagai langkah tercepat yang berhasil diwujudkan pascabencana.
“Di Provinsi Sumatera Barat ini yang pertama kita resmikan. Insya Allah akan menyusul peresmian lainnya karena banyak donatur yang siap berpartisipasi. Harapannya, pemulihan tidak hanya soal rumah, tetapi juga ekonomi dan kenyamanan lingkungan,” ujar Ahdiyarsyah.
Penampakan dari ketinggian, hunian tetap pertama di Sumatera Barat bagi anak yatim korban longsor dan banjir bandang di Nagari Sungai Landia, Kabupaten Agam, Senin (12/1/2026). Foto: Wahyu Sikumbang
Bagi Erni Yuniarti, rumah tersebut menjadi awal baru setelah kehilangan tempat tinggal. Ia mengisahkan bagaimana rumah lamanya yang berjarak sekitar empat meter dari sungai hanyut saat banjir bandang terjadi.
“Rumah saya sudah hanyut. Waktu air mulai besar kami mengungsi ke rumah adik di atas. Besoknya kami tidak bisa lagi ke rumah karena rumah kami itu dikepung air. Anak saya lima orang, sebelumnya belum pernah air sungai sampai ke rumah,” tuturnya dengan suara bergetar.
Zulfamiadi menyampaikan bahwa pembangunan ini baru langkah awal. Menurutnya, Ashpen bersama para mitra menargetkan pembangunan hunian tetap secara bertahap di sejumlah lokasi terdampak bencana.
“Ini baru satu unit dan akan ada berikutnya. Untuk Agam baru satu, tapi di tempat lain juga sudah berjalan. Target kami minimal 20 unit sebagai lembaga yang baru berdiri,” kata Zulfamiadi sembari berharap rumah tersebut membawa kebahagiaan bagi penerima sekaligus menjadi amal jariyah bagi para donatur.
Karang Waluh Group yang diwakili oleh Direktur Wendy Dainury menambahkan bahwa proses pembangunan sempat terkendala cuaca dan longsor susulan sehingga distribusi material dilakukan bertahap. Meski demikian, rumah berhasil diselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu sejak akses jalan dinyatakan aman. Ia berharap semakin banyak pihak yang tergerak membangun hunian tetap bagi warga terdampak, mengingat kebutuhan masih sangat besar.
Kegiatan peresmian turut dihadiri Bupati Agam yang diwakili Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Taslim, Camat IV Koto Subchan, Wali Nagari Sungai Landia Refli Suhelmi, Kepala Jorong Kampuang Ateh Awaludin, serta perwakilan Karang Waluh Group.
Berdasarkan data pemerintah, rangkaian bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat pada November 2025 mengakibatkan ribuan rumah terdampak. Secara keseluruhan tercatat 5.077 rumah rusak berat, 2.981 rusak sedang, 6.895 rusak ringan, 37.567 terendam, dan 775 rumah hilang atau hanyut.
Data kerusakan rumah di Kabupaten Agam per 6 Januari 2026 pukul 20.00 WIB menunjukkan ribuan unit terdampak banjir bandang dan longsor, dengan ratusan rumah rusak berat hingga hanyut, sementara proses pemulihan masih terus berlangsung.
Di Kabupaten Agam saja, rumah rusak berat mencapai 2.364 unit, rusak sedang 110 unit, rusak ringan 265 unit, terendam 2.597 unit, dan hilang atau hanyut 366 unit. Khusus Kecamatan IV Koto, tercatat lima rumah hanyut, 45 rusak berat, 25 rusak sedang, dan 17 rusak ringan.
Saat ini pemerintah bersama BNPB masih mempercepat pembangunan hunian sementara di sejumlah titik sambil mendorong partisipasi berbagai pihak untuk mewujudkan hunian tetap bagi para korban, agar pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
Editor : Wahyu Sikumbang
Artikel Terkait
