Tanpa Kweekschool Bukittinggi, Bahasa Indonesia Tak Akan Seperti Sekarang

Wahyu Sikumbang
Gedung bersejarah Kweekschool Fort de Kock di Bukittinggi yang menjadi pusat lahirnya pemikir bahasa Melayu modern, Sabtu (25/4/2026). (Foto: iNEWSPadang.id/ Wahyu Sikumbang)

Perkembangan bahasa Indonesia terus berlanjut setelah kemerdekaan. Ejaan Van Ophuijsen digantikan oleh Ejaan Soewandi pada 1947, kemudian disempurnakan menjadi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada 1972, hingga kini dikenal sebagai Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

Selain itu, dua alumni Kweekschool lainnya, Soetan Moehammad Zain dan Sutan Takdir Alisjahbana, turut memberi pengaruh besar dalam pengembangan tata bahasa, sastra, dan pemikiran modern bahasa Indonesia. Keduanya mewakili dua generasi penting dalam sejarah sastra, yakni Balai Pustaka dan Pujangga Baru.

Melalui rangkaian kontribusi tersebut, Kweekschool Bukittinggi tidak hanya menjadi institusi pendidikan, tetapi juga pusat lahirnya pemikiran dan gerakan intelektual yang membentuk identitas bahasa nasional Indonesia.



Editor : Wahyu Sikumbang

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network