LIMA PULUH KOTA,inews Padang.id — Pemulihan Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, pascabencana tanah bergerak mulai menampakkan kemajuan. Upaya ini diperkuat melalui keterlibatan mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP) yang turun langsung mendampingi masyarakat terdampak, Minggu (26/4/2026).
Kehadiran mahasiswa tersebut merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak 2026 yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia. Sebanyak 50 mahasiswa ditempatkan di kawasan hunian sementara (huntara) untuk mendorong pemulihan di sektor ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Bencana yang terjadi pada akhir 2025 lalu menyebabkan ratusan rumah rusak serta memutus sumber mata pencaharian warga. Kondisi itu mendorong dilakukannya berbagai langkah strategis berbasis kebutuhan masyarakat.
Program ini dipimpin oleh Synthia Ona Guserike Afner bersama Dr. Hendra Alfi dan Veronika Sriwulantari. Ketiganya membagi fokus kerja sesuai bidang keahlian, mulai dari penguatan ekonomi dan pertanian, peningkatan kapasitas petani, hingga pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan sosial.
Di sektor pertanian, mahasiswa melakukan rehabilitasi lahan terdampak dengan menerapkan sistem pertanian adaptif serta diversifikasi tanaman hortikultura. Lahan yang sebelumnya terbengkalai kini perlahan kembali dimanfaatkan dan menghasilkan.
Sementara itu, pengelolaan lingkungan dilakukan melalui penerapan teknologi TOSS dan pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sederhana. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan limbah plastik dimanfaatkan menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi.
"Kami membangun sistem yang tidak hanya memulihkan, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat ke depan," ujar Synthia.
Tak hanya fokus pada aspek ekonomi dan lingkungan, program ini juga menyasar pemulihan sosial melalui pendampingan psikososial, pembentukan ruang ramah anak, serta mengaktifkan kembali layanan posyandu yang sempat terhenti.
Keterlibatan mahasiswa dinilai menjadi faktor penting dalam mendorong partisipasi aktif warga. Kolaborasi antara dunia pendidikan dan masyarakat ini menunjukkan bahwa proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat sekaligus berkelanjutan.
Editor : Agung Sulistyo
Artikel Terkait
