Laporan resmi mengenai hilangnya rombongan diterima Kantor SAR Banten pada Selasa (8/9). Basarnas kemudian mengerahkan tim awal menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) dan KN SAR Tetuka untuk melakukan pencarian.
Kepala Stasiun RRI Bukittinggi Abdul Ghafar mengatakan aksi doa bersama merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan sekaligus penghormatan terhadap perjuangan wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik, termasuk di wilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi.
"Wartawan menyadari bahwa di balik setiap informasi yang sampai kepada masyarakat, terdapat perjuangan dan tanggung jawab besar para jurnalis yang bekerja langsung di lapangan, termasuk ketika harus berada di wilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi," kata Abdul Ghafar.
Menurutnya, wartawan memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, terutama saat terjadi bencana. Namun, tugas tersebut juga memiliki tantangan dan risiko yang tidak ringan sehingga aspek keselamatan harus menjadi perhatian bersama.
Ketua PWI Bukittinggi Asrial Gindo berharap proses pencarian terhadap seluruh korban dapat terus dilakukan secara maksimal.
"Solidaritas ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap sesama wartawan. Kita sama-sama berdoa agar kelima rekan kita dan tiga kru lainnya segera ditemukan dan diberikan keselamatan," ujar Asrial.
Ketua Bukittinggi Press Club (BPC) Al Fatah mengatakan doa bersama lahir dari rasa persaudaraan di kalangan insan pers. Menurutnya, wartawan tidak hanya bertugas menyampaikan informasi kepada masyarakat, tetapi juga kerap menghadapi berbagai risiko saat melakukan peliputan di lapangan.
Editor : Wahyu Sikumbang
Artikel Terkait
