Ia menjelaskan, berdasarkan laporan harian aktivitas Gunung Marapi selama sepekan sebelum erupsi, tercatat adanya peningkatan beberapa jenis kegempaan, di antaranya gempa hembusan, tremor non-harmonik, gempa vulkanik dalam, gempa tektonik jauh, serta tremor menerus dengan amplitudo dominan 3,5 hingga 4 milimeter.
Sepanjang Sabtu (26/9/2026), selain satu kali erupsi, Pos Pengamat Gunungapi Marapi juga mencatat tujuh kali hembusan dengan amplitudo 3,3 hingga 3,5 milimeter dan durasi 21 hingga 54 detik.
Peta perkiraan sebaran abu vulkanik Gunung Marapi usai erupsi Sabtu (26/9/2026) malam. Sebaran abu dilaporkan mencakup sebagian wilayah Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi. (Foto: Istimewa)
Petugas kembali mengingatkan masyarakat, pendaki, maupun wisatawan agar tidak memasuki kawasan dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi atau Kawah Verbeek. Warga yang bermukim di sepanjang aliran sungai berhulu di Gunung Marapi juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar, terutama saat hujan.
Apabila hujan abu kembali terjadi, masyarakat diimbau menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan saluran pernapasan serta melindungi mata dan kulit dari paparan abu vulkanik.
Rekaman CCTV BPBD Kabupaten Tanah Datar menjadi dasar perkiraan tinggi kolom abu erupsi Gunung Marapi yang mencapai sekitar 2.000 hingga 2.500 meter. (Foto: Istimewa)
Editor : Wahyu Sikumbang
Artikel Terkait
