Tiga Desa Wisata Sumbar Tawarkan Budaya, Kuliner dan Pengalaman Ramah Muslim

Wahyu Sikumbang
Pesilat laki-laki dan perempuan dari berbagai kelompok usia, diiringi musik tradisional, menyambut peserta familiarization trip di Simpang Tigo Tugu Koto Gadang, Kabupaten Agam. (Foto: Istimewa)

BUKITTINGGI, iNewsPadang.id — Kampung Wisata Sanjai di Kota Bukittinggi, Desa Wisata Koto Gadang di Kabupaten Agam, dan Desa Wisata Kubu Gadang di Kota Padang Panjang diperkenalkan kepada pelaku industri pariwisata, kreator konten, media, serta akademisi sebagai bagian dari upaya pengembangan pariwisata ramah muslim berbasis desa di Sumatera Barat.

Pengenalan tiga destinasi tersebut dilakukan melalui kegiatan familiarization trip pada 8–10 Oktober 2026. Program ini merupakan bagian dari pendampingan penguatan produk dan perluasan akses pasar yang diselenggarakan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia bekerja sama dengan Atourin.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak melihat langsung potensi wisata budaya, kuliner tradisional, kerajinan, sejarah, dan religi yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata berbasis masyarakat.

Program pendampingan ini mencakup 15 desa wisata unggulan di lima provinsi, yakni Jawa Barat, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Aceh, dan Jawa Tengah. Di Sumatera Barat, perjalanan pengenalan difokuskan pada tiga desa wisata dengan karakteristik dan atraksi yang berbeda.


Peserta familiarization trip belajar menyulam kerajinan khas Koto Gadang di Rumah Sulam Amai Setia, Kabupaten Agam, untuk mengenal tradisi kerajinan yang menjadi bagian dari daya tarik wisata budaya setempat, Jumat (9/10/2026). (Foto: Istimewa)

Benarivo Triadi Putra dari Atourin mengatakan, peserta kegiatan di Sumatera Barat berasal dari kalangan agen perjalanan dan operator tur, kreator konten, media, serta akademisi. Keterlibatan berbagai kelompok tersebut diarahkan untuk memperoleh masukan mengenai produk wisata, memperluas promosi, dan menjajaki peluang pemasaran paket wisata desa.

Pada hari pertama, Kamis (8/10/2026), peserta mengunjungi Kampung Wisata Sanjai di Bukittinggi. Rombongan disambut Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat bersama unsur pemerintah kecamatan dan kelurahan melalui pertunjukan pencak silat serta tari pasambahan.

Peserta juga diperkenalkan dengan minuman tradisional Aia Tampayang, bolu, dan Lamang Gegek sebagai bagian dari pengalaman kuliner setempat.

Rangkaian kunjungan dilanjutkan dengan edukasi ekonomi di sentra bordir dan pengenalan proses pengupasan kemiri secara tradisional. Peserta kemudian menaiki bendi menuju galeri adat untuk melihat pelaminan khas Minangkabau dan proses pembuatan tas rajut.

Di destinasi yang dikenal dengan kerupuk sanjainya tersebut, rombongan juga mengikuti kegiatan memetik singkong langsung di kebun dan mengunjungi dapur produksi untuk mempelajari proses pembuatan karupuak sanjai.

Pengalaman wisata ditutup dengan makan bajamba di balairung, demonstrasi memasak onde-onde dan pisang kapik, serta permainan tradisional lomba tangkelek panjang.

“Beragam aktivitas tersebut memperlihatkan potensi Kampung Wisata Sanjai dalam memadukan kuliner, kerajinan, tradisi, dan kegiatan ekonomi masyarakat sebagai bagian dari pengalaman wisata desa,” ungkap Ketua Pokdarwis Kampung Wisata Sanjai, Prof. Sukmareni Neng.


Peserta familiarization trip mengamati proses pembuatan dan memasak kerupuk sanjai, kemudian mencicipi kuliner khas Bukittinggi di Kampung Wisata Sanjai, Kamis (8/10/2026). (Foto: iNewsPadang.id / Wahyu Sikumbang)

Pada Jumat (9/10/2026), rombongan melanjutkan perjalanan ke Desa Wisata Koto Gadang, Kabupaten Agam. Peserta disambut pertunjukan silat oleh pesilat laki-laki dan perempuan dari berbagai kelompok usia.

Di desa tersebut, peserta mengunjungi museum untuk mengenal sejarah Koto Gadang, termasuk kisah sejumlah tokoh yang berasal dari daerah itu, seperti H. Agus Salim, Sutan Sjahrir, dan Rohana Kudus.

Rombongan kemudian berkeliling kawasan pusaka menggunakan kendaraan baggy sebelum mengunjungi sentra kerajinan perak. Ketua Pokdarwis Koto Gadang, Jurian Andika, mengatkan, selain melihat proses pembuatan perhiasan dan kerajinan, peserta juga berkesempatan mencoba langsung aktivitas tersebut.

Kunjungan dilanjutkan ke Kerajinan Amai Setia, tempat peserta mengenal tradisi sulaman dan renda khas Koto Gadang yang berkaitan dengan kiprah Rohana Kudus dalam pengembangan kerajinan perempuan.

Selain warisan sejarah dan kerajinan, peserta juga diperkenalkan dengan kuliner khas berupa gulai itik cabai hijau. Rombongan kemudian mengikuti makan bajamba bersama warga.

Sementara itu, pada Sabtu (10/10/2026), peserta mengunjungi Desa Wisata Kubu Gadang di Kota Padang Panjang. Rombongan disambut di Rumah Gadang Angku Datuak Malano Baso, yang berada di kawasan Kampung Budaya dan Religi Sigando, Nagari Gunuang, Kelurahan Sigando, Kecamatan Padang Panjang Timur.

Di lokasi tersebut, peserta mengikuti pengalaman budaya Minangkabau melalui pembelajaran randai, pembuatan alat tiup tradisional dari batang padi yang disebut pupuik, latihan silat, tari piring, serta pengenalan alat musik tradisional.


Ketua Pokdarwis Koto Gadang, Jurian Andika menjelaskan sejarah budaya dan tokoh-tokoh pahlawan asal Koto Gadang kepada peserta familiarization trip di Museum Koto Gadang, Kabupaten Agam, Jumat (9/10/2026). (Foto: Istimewa)

Setelah menikmati makan bajamba di rumah gadang, rombongan melaksanakan salat Zuhur dan melanjutkan kunjungan wisata religi serta sejarah ke Masjid Asasi.

Pengelola Desa Wisata Kubu Gadang yang diketuai Yuliza Zein juga mengajak peserta menghadiri Desa Wisata Fair III. Dalam kegiatan tersebut, peserta dapat berbelanja menggunakan koin Kubu Gadang sekaligus menyaksikan pertunjukan budaya dan promosi pariwisata Sumatera Barat.

Kegiatan itu turut menjadi ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkenalkan produk serta kuliner tradisional kepada masyarakat.

Benarivo Triadi Putra menjelaskan, perjalanan pengenalan tersebut memiliki target keluaran berbeda sesuai dengan peran masing-masing peserta.

Agen perjalanan dan operator tur diharapkan menilai kelayakan komersial paket wisata, memberikan masukan mengenai teknis dan operasional perjalanan, serta mengevaluasi pemenuhan aspek pariwisata ramah muslim. Hasil yang ditargetkan berupa formulir umpan balik dan rekomendasi paket wisata, disertai komitmen untuk memasarkan paket kepada calon pelanggan potensial.

Bagi kreator konten, targetnya adalah menghasilkan sedikitnya satu konten reels dan lima konten story yang menonjolkan daya tarik, keunikan, serta fasilitas ramah muslim di desa wisata. Peserta juga diarahkan mencantumkan akun desa wisata dan penyelenggara dalam unggahan media sosial.

Adapun peserta dari kalangan media diharapkan melakukan peliputan dan menggali informasi mengenai pengembangan pariwisata ramah muslim dari pengelola desa wisata, dengan target minimal satu artikel atau berita yang dipublikasikan.


Peserta familiarization trip belajar membuat camilan tradisional Minangkabau, onde-onde, di kawasan Rumah Gadang Angku Datuak Malano Baso, Desa Wisata Kubu Gadang, Padang Panjang, Sabtu (10/10/2026). (Foto: Istimewa)

Sementara itu, akademisi diharapkan menilai kesiapan destinasi dari perspektif keilmuan, menelaah kesesuaian paket wisata dengan prinsip pariwisata ramah muslim, serta mengidentifikasi peluang kerja sama dengan perguruan tinggi.

Melalui pendekatan tersebut, pengenalan Kampung Wisata Sanjai, Koto Gadang, dan Kubu Gadang tidak hanya berfokus pada atraksi wisata, tetapi juga diarahkan untuk mengevaluasi kesiapan produk dan memperluas jaringan pemasaran.

Editor : Wahyu Sikumbang

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network