Dari Balance Bike ke Ajang Internasional, Komunitas Push Bike Bukittinggi Bina Anak Sejak Dini
BUKITTINGGI, iNEWSPadang.ID — Komunitas Push Bike Bukittinggi terus mengembangkan pembinaan olahraga anak usia dini melalui aktivitas balance bike yang kini diarahkan menuju pola semi-akademi.
Komunitas yang berdiri sejak Juli 2025 ini telah membina 49 anak berusia 2,5 hingga 7 tahun, berasal dari Bukittinggi, Agam, Padang Panjang, hingga Sawahlunto.
Ketua Komunitas Push Bike Bukittinggi, Jonri Zaldi, menjelaskan bahwa kegiatan latihan rutin dilaksanakan dua kali dalam sepekan, yakni setiap Rabu dan Sabtu, berlokasi di Lantai IV Gedung Parkir yang berada di depan Kantor DPRD Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Lokasi tersebut dipilih karena aman dan representatif untuk aktivitas anak-anak.
“Ini komunitas yang kami arahkan ke semi-akademi. Anak-anak kami kembangkan ke pembinaan. Balance bike ini olahraga sepeda untuk melatih keseimbangan anak, sekaligus mengarahkan mereka ke kegiatan positif dan menjauhkan dari dampak negatif gadget,” ujar Jonri.

Meski pembinaan lebih menekankan pada perkembangan dasar, sejumlah anak binaan komunitas ini telah mengikuti berbagai ajang kompetisi, baik di tingkat Sumatera maupun kejuaraan internasional di Malaysia beberapa bulan lalu.
Ke depan, anak-anak tersebut direncanakan akan dikembangkan ke cabang olahraga lanjutan, khususnya yang berkaitan dengan dunia balap dan persepedaan.
Manfaat latihan push bike juga dirasakan langsung oleh para orang tua peserta. Nadia dan Beni, orang tua dari Nasya dan Rafa, menyebutkan bahwa kegiatan ini memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan fisik dan mental anak.
“Bagus untuk motorik dan mental anak. Yang awalnya tidak mau ramai-ramai, sekarang sudah terbiasa berinteraksi dengan teman-temannya. Fisiknya juga jadi lebih sehat dan kuat,” kata Beni. Selain mengikuti latihan komunitas, orang tua juga menerapkan latihan tambahan di rumah agar anak tetap aktif.
Sementara itu, pelatih push bike Rangga menjelaskan bahwa pola latihan difokuskan pada penguatan otot kaki dan tangan agar anak mampu mendorong sepeda dengan stabil dan tahan lama.

Tantangan utama dalam proses latihan adalah mengelola emosi dan fokus anak-anak, terutama saat sesi peregangan.
“Kadang ada anak yang menangis saat stretching karena memang butuh kekuatan fisik. Di sini kesabaran kami diuji, apalagi anak-anak masih sangat kecil,” ujarnya.
Dengan pendampingan orang tua di setiap sesi latihan serta jadwal rutin yang konsisten, Komunitas Push Bike Bukittinggi optimistis dapat terus mencetak anak-anak yang sehat, percaya diri, dan memiliki pondasi kuat untuk berkembang ke jenjang olahraga berikutnya.

Editor : Wahyu sikumbang