Populasi Terus Bertambah, Sapi Pesisir Kian Diminati Peternak Indonesia
LIMAPULUH KOTA,iNewsPadang.id-Hamparan padang rumput luas di kawasan Padang Mengatas, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, menjadi pusat pengembangan salah satu plasma nutfah ternak asli Indonesia, yakni sapi Pesisir. Dari kawasan inilah rumpun sapi lokal tersebut dibina dan dikembangkan untuk memperkuat ketersediaan bibit unggul bagi peternakan nasional.
Sapi Pesisir dikenal sebagai salah satu kekayaan genetik ternak Indonesia yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan tropis. Karakter tersebut menjadikannya sebagai salah satu alternatif penting dalam pengembangan peternakan yang berkelanjutan, terutama bagi peternak rakyat.
Pengelolaan pembibitan sapi Pesisir saat ini dilakukan oleh BPTU-HPT Padang Mengatas melalui sistem pemeliharaan berbasis padang penggembalaan. Dengan memanfaatkan areal pastura yang luas, ternak dipelihara secara alami namun tetap berada dalam pengawasan manajemen yang terukur, mulai dari pengaturan pakan, pengendalian kesehatan, hingga pengelolaan reproduksi.
Kepala BPTU-HPT Padang Mengatas, Farouk Mochtar, mengatakan pengembangan sapi Pesisir dilakukan secara terencana untuk menjaga kemurnian sekaligus meningkatkan kualitas genetiknya.
“Sapi Pesisir merupakan salah satu plasma nutfah ternak asli Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Melalui program pembibitan yang terarah di Padang Mengatas, kami berupaya menjaga kualitas genetiknya sekaligus memperluas pemanfaatannya bagi peternak di berbagai daerah,” ujar Farouk Mochtar.
Program pengembangan sapi Pesisir di Padang Mengatas sendiri bermula dari penjaringan ternak milik masyarakat. Pada 2013, sebanyak 50 ekor sapi berhasil dihimpun sebagai populasi awal. Setahun kemudian jumlahnya bertambah 55 ekor, dan pada 2015 dilakukan pengadaan terbesar dengan penambahan 150 ekor sapi.
Seiring waktu, populasi sapi Pesisir terus berkembang secara konsisten. Hingga awal 2026, jumlahnya telah mencapai 648 ekor. Peningkatan ini merupakan hasil dari manajemen pembibitan yang terencana, seleksi bibit yang ketat, serta pengelolaan reproduksi yang dilakukan secara profesional.
Dalam lima tahun terakhir, sapi Pesisir bahkan mencatatkan performa reproduksi yang menonjol dibandingkan rumpun sapi lainnya. Persentase kelahiran tercatat mencapai 46,44 persen dari total kelahiran ternak di unit tersebut.
Menurut Farouk, capaian tersebut menunjukkan bahwa sapi Pesisir memiliki tingkat fertilitas yang baik dan mampu berkembang secara stabil sepanjang tahun.
“Keunggulan sapi Pesisir tidak hanya pada kemampuan adaptasinya terhadap lingkungan tropis, tetapi juga pada performa reproduksinya yang stabil. Ini menjadikannya sangat potensial sebagai sumber bibit berkelanjutan bagi peternak,” katanya.
Selain produktif, sapi Pesisir juga dikenal memiliki daya tahan yang baik terhadap kondisi lingkungan. Ternak ini mampu memanfaatkan hijauan lokal secara efisien serta relatif tahan terhadap tekanan lingkungan maupun penyakit.
Dengan ukuran tubuh yang kompak dan kebutuhan nutrisi yang relatif rendah, sapi Pesisir dinilai sangat cocok dikembangkan dalam berbagai sistem pemeliharaan, baik secara ekstensif di padang penggembalaan maupun secara intensif oleh peternak.
Minat peternak terhadap sapi Pesisir juga tercermin dari tingginya angka distribusi ternak dari BPTU-HPT Padang Mengatas. Hingga kini, sapi Pesisir tidak hanya dikembangkan di Sumatera Barat, tetapi juga telah disalurkan ke berbagai wilayah di Indonesia.
Dalam periode 2018 hingga 2025, distribusi sapi Pesisir mencapai 1.108 ekor dari total 2.561 ekor ternak yang didistribusikan. Jumlah tersebut setara dengan 43,26 persen dari keseluruhan distribusi, menjadikannya sebagai rumpun sapi yang paling banyak diminati.
Menurut Farouk Mochtar, tingginya minat peternak terhadap sapi Pesisir menunjukkan bahwa ternak lokal ini memiliki nilai ekonomis sekaligus potensi besar untuk mendukung peningkatan populasi ternak nasional.
“Dengan pembibitan yang terstruktur dan pengawasan yang berkelanjutan, kami berharap sapi Pesisir dapat menjadi salah satu tulang punggung pengembangan peternakan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak,” ujarnya.
Kini, sapi Pesisir tidak lagi sekadar dikenal sebagai ternak lokal dari Sumatera Barat. Dari Padang Mengatas, rumpun sapi ini terus berkembang menjadi salah satu harapan bagi masa depan peternakan Indonesia tangguh, adaptif, dan bernilai ekonomi bagi peternak di berbagai daerah.
Editor : Agung Sulistyo