get app
inews
Aa Text
Read Next : Payakumbuh–Limapuluh Kota Siap Sukseskan Porwaprov PWI Sumbar 2025

Aiman Witjaksono: PWI Bersatu, Pers Harus Kritis Kejar Target Indonesia 2034

Minggu, 08 Februari 2026 | 14:24 WIB
header img
Aiman Witjaksono memberikan keterangan kepada perwakilan wartawan Bukittinggi Press Club (BPC) di sela kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) di Kota Serang, Provinsi Banten, Minggu (8/2/2026). Foto: Istimewa

BANTEN, iNEWSPadang.ID — Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat sekaligus wartawan senior nasional, Aiman Witjaksono, menanggapi kembali bersatunya PWI setelah sempat dilanda dualisme organisasi. Ia menilai persatuan wartawan menjadi prasyarat penting agar pers dapat berperan optimal dalam mengawal arah pembangunan nasional.

Aiman yang juga menjabat Wakil Ketua Departemen Hukum dan HAM PWI Pusat menegaskan bahwa wartawan pada hakikatnya memang memiliki pandangan yang dinamis. Namun, perbedaan tersebut seharusnya tidak berujung pada perpecahan organisasi.

“Memang seharusnya wartawan itu satu organisasi, dalam artian PWI ini tidak terpecah. Bahwa ada pemikiran-pemikiran yang dinamis itu sudah fitrahnya wartawan,” kata Aiman saat ditemui di Serang, Banten, Minggu (8/2/2026).

Menurutnya, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia ke depan tidaklah ringan. Karena itu, ia menekankan pentingnya PWI yang solid agar wartawan dapat bersama-sama mengambil peran strategis. “PWI dalam hal ini adalah PWI yang solid, karena bagaimanapun juga tantangan kita kedepan tidak ringan. Sama-sama kita punya tujuan untuk memajukan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Aiman juga menyoroti proyeksi demografi Indonesia yang dinilainya memasuki titik krusial pada 2034. Setelah periode tersebut, jumlah penduduk usia produktif diperkirakan akan menurun seiring menua-nya generasi muda saat ini. Kondisi ini, kata dia, menjadi batas waktu yang tidak bisa ditawar.

“Jadi sampai 2034 itu harus kita kejar. Kalau tidak, maka lewat dari itu kita tidak bisa mengejar. Indonesia akan masuk ke dalam jebakan pendapatan kelas menengah atau middle income trap,” katanya.

Ia menambahkan, peluang Indonesia untuk menjadi negara maju akan semakin kecil jika momentum tersebut terlewat. Oleh karena itu, pers dan wartawan diminta turut bahu-membahu mendorong kemajuan bangsa sesuai peran dan fungsinya. “Untuk menjadi negara maju itu hampir mustahil kalau tidak dikejar 2034. Oleh karena itu tidak ada pilihan, maka Indonesia harus mengejar itu dan wartawan, pers, itu harus bahu-membahu untuk memajukan Indonesia dengan caranya,” ujar Aiman.

Dalam konteks peran pers, Aiman mengingatkan agar wartawan tidak terjebak pada sikap patuh tanpa kritik. Ia menegaskan, jurnalisme justru harus hadir sebagai pengingat kekuasaan agar tetap berada di jalur yang benar. “Sekali lagi bukan dengan cara misalnya membebek penguasa, justru tetap harus mengingatkan supaya kembali ke jalur yang benar. Jadi memajukan bangsa Indonesia dengan nilai-nilai jurnalisme,” katanya.

Lebih jauh, Aiman menekankan bahwa sikap kritis merupakan fondasi yang tidak boleh ditinggalkan oleh wartawan. Menurutnya, pembangunan bangsa membutuhkan nalar yang tajam dan analisis berbasis data serta fakta. “Karena bagaimanapun juga untuk membangun bangsa tadi membutuhkan akal yang menyala. Akal yang menyala itu didapat dari kekritisan. Bukan sekadar berbicara, tapi punya data, punya fakta, punya logika, dan darinya muncul analisa,” pungkasnya.

 

Editor : Wahyu Sikumbang

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut