Jadi Pusat Literasi Dunia di IMLF 2026, Bukittinggi Sambut 250 Delegasi dari 36 Negara
BUKITTINGGI, iNewsPadang.id — Ratusan pegiat literasi dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, dalam pembukaan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 yang digelar di Lapangan Balai Kota Bukittinggi, Rabu (3/6/2026) malam.
Festival literasi internasional yang berlangsung pada 3 hingga 7 Juni 2026 tersebut diikuti sekitar 250 delegasi dari 36 negara. Para peserta terdiri dari penulis, sastrawan, peneliti, akademisi, hingga mahasiswa yang datang untuk berbagi gagasan dan pengalaman mengenai perkembangan literasi global.
Penyelenggaraan IMLF tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan peringatan 100 tahun Jam Gadang, ikon Kota Bukittinggi yang menjadi salah satu landmark paling terkenal di Sumatera Barat. Mengusung tema “Jam Gadang, Detak Jantung Ibukota”, festival ini menjadi ruang pertemuan lintas negara untuk membahas kebudayaan, sastra, bahasa, pendidikan, hingga perkembangan teknologi dalam dunia literasi.
Selain agenda utama yang berlangsung selama lima hari, rangkaian kegiatan seni, budaya, dan sejarah juga akan digelar hingga 21 Juni 2026. Para delegasi mancanegara disambut melalui pertunjukan budaya Minangkabau serta sajian kuliner khas daerah dalam acara welcome dinner yang berlangsung meriah.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mengatakan penyelenggaraan festival internasional tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya serta tradisi intelektual Minangkabau kepada masyarakat dunia.
“Kami ucapkan selamat datang kepada seluruh delegasi dari berbagai negara yang hadir pada festival internasional ini. Ini menjadi semakin istimewa karena diselenggarakan bertepatan dengan peringatan 100 tahun Jam Gadang, ikon kebanggaan Bukittinggi, Sumatera Barat, dan juga Indonesia,” ujarnya.
Menurut Mahyeldi, masyarakat Minangkabau memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi literasi yang diwariskan secara turun-temurun. Filosofi "alam takambang jadi guru" dinilai telah membentuk karakter masyarakat yang dekat dengan budaya belajar, berdiskusi, menulis, dan merantau untuk menuntut ilmu.
Editor : Wahyu Sikumbang