Seminar Internasional Warnai Peringatan 100 Tahun Jam Gadang, Diikuti Delegasi 36 Negara
Ia juga menjelaskan perubahan bentuk atap Jam Gadang yang mengikuti dinamika sejarah. Pada masa kolonial Belanda, bangunan tersebut menggunakan atap bergaya Eropa. Saat pendudukan Jepang, bentuk atap berubah menyerupai pagoda. Setelah Indonesia merdeka, atap Jam Gadang kemudian menggunakan gonjong khas Minangkabau yang menjadi identitasnya hingga saat ini.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menilai penyelenggaraan festival internasional tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan tradisi intelektual Minangkabau kepada masyarakat dunia.
Selain agenda utama yang berlangsung selama lima hari, berbagai kegiatan seni, budaya, dan sejarah dijadwalkan berlangsung hingga 21 Juni 2026. Para delegasi mancanegara juga disambut melalui pertunjukan budaya Minangkabau serta sajian kuliner khas daerah dalam acara welcome dinner yang digelar meriah di Kota Bukittinggi.
Melalui seminar dan festival internasional tersebut, Bukittinggi tidak hanya memperingati perjalanan panjang Jam Gadang sebagai ikon kota, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai pusat pertemuan budaya, literasi, dan pertukaran gagasan di tingkat global.
Editor : Wahyu Sikumbang