Seminar Internasional Warnai Peringatan 100 Tahun Jam Gadang, Diikuti Delegasi 36 Negara
BUKITTINGGI, iNewsPadang.id — Peringatan 100 tahun Jam Gadang tidak hanya menjadi perayaan sejarah bagi Kota Bukittinggi, tetapi juga menarik perhatian dunia internasional. Pemerintah Kota Bukittinggi bersama International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 2026 menggelar Seminar Utama bertajuk "Jam Gadang dalam Berbagai Perspektif" di Balairung Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Jumat (5/6/2026).
Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian IMLF ke-4 yang berlangsung pada 3 hingga 7 Juni 2026. Festival literasi internasional itu diikuti sekitar 250 delegasi dari 36 negara yang terdiri atas penulis, sastrawan, peneliti, akademisi, hingga mahasiswa dari berbagai belahan dunia.
Penyelenggaraan IMLF tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan peringatan satu abad Jam Gadang yang dibangun pada 1926 dan kini menjadi ikon utama Kota Bukittinggi. Mengusung tema "Jam Gadang, Detak Jantung Ibukota", festival menjadi ruang pertemuan lintas negara untuk membahas kebudayaan, sastra, bahasa, pendidikan, hingga perkembangan teknologi dalam dunia literasi.
Dalam seminar tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Denny Abdi, hadir sebagai pembicara kunci. Sejumlah akademisi dan peneliti dari berbagai negara juga turut berbagi pandangan, di antaranya Prof. Gusti Asnan dari Indonesia, Arnaud Kokosky dari Belanda, Berthold Damshäuser dari Jerman, Nanang Asfarinal dari Indonesia, serta Dr. Les Wicks dari Australia.

Ketua DPRD Kota Bukittinggi, Syaiful Efendi, mengatakan peringatan 100 tahun Jam Gadang menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan sejarah sekaligus menegaskan peran strategis bangunan tersebut dalam perkembangan Kota Bukittinggi.
"Perjalanan sejarah Bukittinggi tidak dapat dipisahkan dari fungsi perdagangan yang berkembang sejak abad ke-18, kemudian diperkuat pada masa pemerintahan kolonial Belanda sebagai pusat pemerintahan dan militer di wilayah Sumatera Barat. Dalam perkembangan tersebut, Jam Gadang dibangun sebagai salah satu penanda penting kota yang hingga kini menjadi simbol Bukittinggi," ujarnya.
Menurut Syaiful, keberadaan Jam Gadang selama satu abad telah memberikan dampak luas terhadap perkembangan ekonomi, sosial, infrastruktur, serta hubungan antardaerah. Karena itu, seminar diharapkan dapat memperkaya pemahaman masyarakat mengenai peran Jam Gadang sebagai magnet yang mendorong kemajuan kota.
Editor : Wahyu Sikumbang