Butuh Rujukan Darurat, Keluarga Pasien Keluhkan Sulitnya Akses Ambulans RSUD Bukittinggi
BUKITTINGGI, iNewsPadang.id — Keluarga seorang pasien asal Gadut, Kabupaten Agam, Sumatra barat, mengeluhkan pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Bukittinggi setelah kerabat mereka diduga harus menunggu sekitar dua jam untuk proses penanganan lanjutan dan rujukan medis.
Keluhan tersebut disampaikan Januar (54), keluarga pasien bernama Amril (68), yang mengalami kecelakaan di rumah pada Senin (8/6/2026) sore dan segera dibawa ke IGD RSUD Bukittinggi di kawasan Bypass Gulai Bancah.
Menurut Januar, sesampainya di rumah sakit, Amril mendapatkan penanganan awal berupa pemasangan perban pada luka di kepala serta pemotongan rambut di area yang mengalami cedera. Setelah dilakukan pemeriksaan, pihak rumah sakit menyatakan pasien perlu dirujuk ke rumah sakit lain karena keterbatasan fasilitas penunjang.
"Setelah diperiksa, kami diberitahu bahwa pasien harus dirujuk karena di RSUD belum ada CT Scan. Namun yang kami sesalkan, pasien tidak segera diberangkatkan," kata Januar, Selasa (9/6/2026).

Ia mengaku keluarga berharap pasien dapat segera dibawa menggunakan ambulans yang tersedia di rumah sakit. Namun, menurutnya, terdapat sejumlah persyaratan administrasi yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum ambulans dapat digunakan.
Karena khawatir kondisi pasien memburuk, keluarga akhirnya mencari ambulans secara mandiri dan memperoleh bantuan dari Ambulans Masjid Jamiyatul Abrar di Aro Kandikia, Nagari Gadut.
"Yang kami pertanyakan adalah sisi kemanusiaannya. Jika memang ada administrasi atau biaya yang harus diselesaikan, seharusnya itu bisa dilakukan setelah pasien diantar. Keselamatan pasien mestinya menjadi prioritas," ujarnya.
Januar juga mengungkapkan, setelah tiba di rumah sakit tujuan, keluarga kembali menghadapi kendala karena dokter jaga mempertanyakan kelengkapan dokumen rujukan dari rumah sakit sebelumnya.
Menanggapi keluhan tersebut, pihak RSUD Bukittinggi menegaskan seluruh proses pelayanan telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Kepala Bagian Tata Usaha RSUD Bukittinggi, Feli, didampingi Kabid Pelayanan dr Yeva, Kabid Keperawatan Sri Wahyuni Y, Kasubag Humas Fatma Idola, dan Kasi Pelayanan dr Ermalinda, menjelaskan bahwa pasien langsung mendapatkan penanganan medis setibanya di IGD.
Menurut pihak rumah sakit, hasil pemeriksaan menunjukkan pasien memiliki riwayat gangguan jantung sehingga diperlukan pemeriksaan lanjutan menggunakan CT Scan, sementara fasilitas tersebut belum tersedia di RSUD Bukittinggi.

"Pasien sudah kami terima dan langsung ditindaklanjuti. Karena RSUD belum memiliki CT Scan, kami mengupayakan rujukan ke RSAM. Namun proses rujukan membutuhkan waktu, sementara keluarga menginginkan pasien segera berangkat sehingga disarankan menggunakan ambulans secara mandiri," jelas Feli.
RSUD Bukittinggi diketahui memiliki sejumlah unit ambulans operasional, termasuk kendaraan bantuan dari Yayasan Prabowo Subianto, BRI Peduli, dan Bank Nagari.
Keluhan terkait prosedur penggunaan ambulans juga pernah disampaikan warga lainnya. Debi, warga Kelurahan Tarok Dipo, Kecamatan Guguk Panjang, mengaku pernah mengalami kesulitan serupa saat hendak melahirkan anak keduanya.
"Sewaktu saya akan melahirkan anak kedua tidak bisa pakai ambulans yang standby, padahal sakit sudah tak tertahankan. Saya disuruh pindah rumah sakit dan akhirnya memesan kendaraan ojek daring," kenangnya mengingat peristiwa yang terjadi delapan bulan yang lalu.
Peristiwa tersebut menambah sorotan terhadap pelayanan rujukan dan akses transportasi medis bagi pasien dalam kondisi darurat. Keluarga pasien berharap prosedur administrasi dan penerapan SOP tetap memperhatikan aspek keselamatan serta kebutuhan mendesak pasien agar penanganan medis dapat berlangsung lebih cepat dan efektif.
Editor : Wahyu Sikumbang