PAYAKUMBUH,inews Padang.id-Pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali fasilitas yang rusak. Penguatan sumber penghidupan masyarakat juga menjadi bagian penting agar aktivitas ekonomi kembali berjalan.
Hal itu menjadi salah satu sasaran Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif melalui program Akselerasi Produk Kriya (KRIYASI) Ekraf Peduli Sulam dan Anyam 2026 di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat.
Kegiatan yang berlangsung pada 22–24 September 2026 di Hotel Mangkuto tersebut diikuti 50 pelaku kriya. Mereka terdiri dari 25 pelaku usaha anyaman dan 25 pelaku sulam.
KRIYASI Ekraf Peduli merupakan bagian dari dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif dalam Program Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
PRRP merupakan instruksi Presiden Prabowo untuk memastikan masyarakat terdampak bencana tidak hanya kembali pulih, tetapi juga dapat bangkit dan membangun kehidupan yang lebih tangguh.
Dengan semangat “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya”, program tersebut diarahkan untuk memperkuat penghidupan masyarakat, menggerakkan ekonomi lokal, serta membuka sumber pertumbuhan baru berbasis potensi kreatif daerah.
Di Payakumbuh, pendampingan difokuskan pada dua subsektor, yakni sulam dan anyam. Peserta mendapatkan penguatan kapasitas untuk meningkatkan kualitas desain, teknik produksi, serta nilai tambah produk.
Untuk subsektor anyam, pengembangan diarahkan pada produk home décor dengan karakter bambu lokal. Sementara pada subsektor sulam, peserta didorong menghasilkan produk turunan seperti kipas dan tas.
Wakil Wali Kota Payakumbuh Elzadaswarman mengatakan pelaksanaan KRIYASI menjadi momentum memperkuat kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif masyarakat.
“Adanya kegiatan yang memacu kreativitas seperti KRIYASI menjadi momentum yang penting dikembangkan bersama, terlebih dalam kondisi pemulihan ekonomi seperti sekarang,” kata Elzadaswarman.
Ia juga mengingatkan peserta agar tidak berhenti berkreasi setelah program pendampingan berakhir. Menurutnya, kualitas produk harus tetap dijaga agar kriya sulam dan anyam Payakumbuh mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Produk anyam dan sulam Kota Payakumbuh dapat terus dikembangkan dengan budaya lokal serta disesuaikan dengan kebutuhan pasar nasional bahkan global,” ujarnya.
Elzadaswarman berharap pendampingan tersebut tidak hanya meningkatkan keterampilan perajin, tetapi juga melahirkan produk dan usaha baru yang dapat bertahan dalam jangka panjang.
Sementara itu, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Yuke Sri Rahayu, mengapresiasi antusiasme 50 peserta yang mengikuti rangkaian Visitasi II KRIYASI.
Yuke mengatakan pengembangan pelaku kriya tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan produksi. Peserta juga perlu memiliki identitas usaha dan mampu mengembangkan produknya sesuai kebutuhan pasar.
“Peserta Kriyasi diharapkan dapat membuat brand usaha nya sendiri, setelah mendapat pelatihan pengembangan produk,” ujar Yuke.
Ia berharap KRIYASI dapat menjadi bagian dari proses pemulihan sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk terus berkembang melalui potensi kreatif yang dimiliki.
Salah seorang peserta kriya sulam, Indah, mengatakan kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada pelaku kriya untuk meningkatkan keterampilan sekaligus memperluas jejaring.
Menurut Indah, sebelumnya sebagian pelaku sulam Payakumbuh masih berfokus pada jasa pengerjaan sulam. Melalui KRIYASI, peserta didorong untuk mengembangkan produk sulam sendiri.
Ia berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pendampingan dapat membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.
Kegiatan KRIYASI ini merupakan kelanjutan dari Visitasi I yang berlangsung pada 26–27 Agustus 2026. Pada tahap tersebut, peserta mendapatkan pemetaan arah pengembangan produk, penyampaian konsep hingga persiapan pembuatan purwarupa.
Dalam Visitasi II yang berlangsung selama tiga hari, mentor memantau perkembangan peserta sekaligus memberikan pendampingan dalam pengembangan desain dan teknik produksi.
Untuk subsektor anyam, pendampingan diberikan Nova Retnawati dan Savira Chrissentya dari Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik Kementerian Perindustrian.
Sementara pendamping subsektor sulam, Aprina Murwanti dan Yusmini Murdiyah, berasal dari Rumpun Consulting.
Melalui KRIYASI, pemerintah berharap pemulihan pascabencana tidak hanya berorientasi pada pemulihan kondisi fisik masyarakat, tetapi juga mendorong mereka kembali produktif.
Keberlanjutan program selanjutnya akan bergantung pada kemampuan pelaku kriya mempertahankan kualitas, membangun merek, melakukan inovasi, serta memperluas akses pasar setelah pendampingan berakhir.
Editor : Agung Sulistyo
Artikel Terkait
