100 Tahun Jam Gadang, Bukittinggi Perkuat Diplomasi Indonesia-Belanda Lewat Seminar Internasional
"Kesadaran budaya adalah fondasi penting bangsa. Budaya tidak boleh hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi harus menjadi kekuatan yang menghubungkan sejarah, identitas, dan arah pembangunan masa depan," katanya.
Fadli Zon turut mengingatkan pentingnya peran Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Mr. Syafruddin Prawiranegara saat Agresi Militer Belanda II pada 1948. Menurutnya, keberadaan PDRI menjadi bukti bahwa Republik Indonesia tetap berdiri ketika para pemimpin nasional ditawan.
"PDRI adalah bukti bahwa Republik Indonesia tidak pernah berhenti berdiri. Ketika para pemimpin bangsa ditawan, pemerintahan tetap berjalan dari Ranah Minang. Dunia mengetahui bahwa Indonesia masih ada karena keberanian para pejuang di daerah ini," tegasnya.
Ia bahkan mendorong agar Bukittinggi semakin menguatkan identitasnya sebagai Kota Perjuangan. Menurutnya, nilai sejarah yang dimiliki kota tersebut jauh lebih besar dibanding sekadar citra sebagai destinasi wisata.

Sementara itu, Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan yang mendukung penuh rangkaian kegiatan peringatan 100 Tahun Jam Gadang.
Menurut Ramlan, pelestarian sejarah dan budaya menjadi tanggung jawab bersama agar nilai-nilai perjuangan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. "Sejarah dan budaya ini tidak hanya untuk dibaca, tetapi untuk dirasakan dan dihargai. Bangsa yang tidak mengenal sejarahnya akan kehilangan arah. Karena itu, nilai-nilai sejarah dan budaya harus terus kita jaga dan wariskan," ujarnya.
Ramlan menjelaskan bahwa seminar internasional tersebut juga menjadi langkah awal membangun komunikasi yang lebih erat antara Bukittinggi dan Amsterdam. Hubungan itu diharapkan membuka ruang pembelajaran dalam bidang literasi, sejarah, budaya, hingga pariwisata tanpa harus terjebak pada romantisme masa lalu.
Editor : Wahyu Sikumbang