PADANG, iNewsPadang.id - Di sebuah sudut Lubuk Kilangan, Padang, Sumatra Barat, seorang ibu bernama Eny menanamkan satu keyakinan kuat di hati anak-anaknya, pendidikan adalah kunci perubahan. Sebagai mitra usaha binaan Amartha, Eny bekerja keras bukan hanya untuk sesuap nasi, melainkan untuk membuka cakrawala masa depan yang lebih luas bagi buah hatinya.
"Ibu ingin anak-anak punya kesempatan luas lewat pendidikan agar mereka bisa mewujudkan impiannya," ungkap Eny tulus. Doa dan kerja keras itu kini berbuah manis melalui Salma, putri sulungnya.
Mimpi Besar Menjadi Ilmuwan Otak
Salma bukan remaja biasa. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada neuroscience (ilmu saraf). Ketertarikan ini lahir dari kegelisahannya melihat bagaimana lingkungan sering kali menghakimi potensi anak hanya berdasarkan peringkat di sekolah.
"Aku melihat banyak orang menilai kemampuan hanya dari angka. Padahal, otak manusia jauh lebih luas dan adaptif dari itu," jelas Salma. Ia bermimpi menjadi peneliti yang bisa membantu anak-anak tumbuh lebih percaya diri melalui riset yang menyentuh sisi kemanusiaan. Untuk memperkuat fondasi teknisnya, Salma kini menekuni Computer Science di Albukhary International University, Malaysia, sebuah bidang yang ia yakini akan mendukung riset inti di dunia neuroscience.
Titik Balik Menuju Kemandirian
Langkah Salma menuju kampus luar negeri tidaklah instan. Menyadari kondisi ekonomi keluarga, Salma bertekad untuk kuliah dengan beasiswa penuh. Perjalanannya menemui titik terang saat ia lolos sebagai penerima Beasiswa Amartha Cendekia Batch 1.
Bagi Salma, Amartha memberikan lebih dari sekadar bantuan dana pendidikan. Kehadiran sosok Kakak Asuh (mentor profesional) menjadi pembuka wawasan yang tak ternilai harganya.
"Selama ini aku hanya dapat perspektif dari Ibu. Dengan adanya Kakak Asuh, pandangan aku terhadap dunia kerja, pendidikan tinggi, dan cara menyusun prioritas hidup jadi semakin terbuka," kenang Salma.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
