Bongko, Takjil Langka yang Hanya Muncul Saat Ramadan di Payakumbuh

Agung Sulistyo
Proses pembuatan bongko dimulai dari memasak tepung beras bersama santan, gula aren, dan air pandan hingga mengental, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang,siap menjadi takjil khas Ramadan di Payakumbuh.

PAYAKUMBUH,inews Padang.id-Aroma daun pisang yang dikukus menyeruak di antara riuh pasar pabukoan sore hari di Payakumbuh. Di balik kepulan uap itu, tersimpan satu kuliner yang namanya mungkin masih asing bagi sebagian masyarakat Sumatera Barat: bongko.

Kue tradisional ini hanya muncul saat Ramadan. Di luar bulan puasa, bongko nyaris tak ditemukan. Tradisi musiman inilah yang membuatnya kian istimewa sekaligus rentan tergerus zaman.

Di sejumlah pasar takjil di Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota, bongko menjadi salah satu menu buruan jelang berbuka. Disajikan dalam balutan daun pisang, bongko menghadirkan cita rasa manis dengan tekstur lembut dan sedikit padat.

Bahan dasarnya sederhana: tepung beras yang dimasak menyerupai bubur kental, lalu dipadukan dengan santan, gula aren, dan perasan air pandan. Adonan tersebut kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang. Hasilnya adalah takjil yang legit, harum, dan mengenyangkan.

Menurut sejumlah referensi kuliner Nusantara, penggunaan tepung beras dan santan dalam kue tradisional merupakan ciri khas panganan Melayu-Minangkabau yang telah dikenal sejak lama. Dalam buku Sejarah Kuliner Indonesia, disebutkan bahwa banyak kudapan tradisional Sumatera Barat memanfaatkan bahan lokal seperti beras, kelapa, dan gula aren sebagai bentuk adaptasi terhadap sumber daya alam setempat. Sementara itu, penelitian Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat juga mencatat pasar pabukoan sebagai ruang penting pelestarian kuliner musiman Ramadan di Ranah Minang.

Di Padang Karambia, Kecamatan Payakumbuh Selatan, Titi Amur menjadi salah satu pelaku usaha yang masih setia memproduksi bongko setiap Ramadan.

“Bongko ini memang khas Ramadan. Kalau di luar bulan puasa, jarang yang cari. Tapi kalau sudah masuk Ramadan, sehari bisa habis 400 bungkus bahkan lebih,” ujar Titi Amur, Senin (23/2/2026).

Ia mulai berjualan sejak pukul 14.00 WIB hingga menjelang azan Magrib. Dengan harga Rp6.000 per bungkus, bongko buatannya kerap ludes sebelum waktu berbuka tiba.

Ada dua varian yang ditawarkan, yakni bongko original dan bongko roti yang diberi tambahan potongan roti sebagai campuran. Keduanya sama-sama menjadi favorit pembeli.

Tak jarang, bongko juga disantap bersama lemang. Perpaduan rasa gurih lemang dan manisnya bongko menciptakan sensasi berbuka yang tak hanya melepas dahaga, tetapi juga mengenyangkan.

Di tengah gempuran aneka takjil modern dan jajanan kekinian, keberadaan bongko menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya. Ramadan pun menjadi momentum penting untuk menjaga agar cita rasa lama itu tetap bertahan di meja-meja berbuka.

Editor : Agung Sulistyo

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network