SOLOK, iNews.id – Pascaperayaan Idulfitri 1447 H, masyarakat Nagari Simanau, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kembali menggelar tradisi turun-temurun yang sarat makna. Tradisi yang dinamakan Alek Lapeh Kawua ini digelar sebagai ritual tolak bala sekaligus ungkapan syukur menjelang masa tanam padi.
Ritual ini dimulai dengan penyembelihan seekor kerbau jantan berukuran besar. Berbeda dengan pemotongan hewan pada umumnya, daging kerbau dalam tradisi Bakawua ini tidak untuk diperjualbelikan. Seluruh daging dibagikan secara merata kepada seluruh warga nagari tanpa memandang status sosial.
Peran Unik Para Dubalang
Ada pemandangan menarik dalam puncak acara yang berlangsung di Batu Gadang, sebuah area terbuka di ujung persawahan. Jika biasanya urusan memasak identik dengan kaum perempuan, dalam tradisi Alek Lapeh Kawua, peran tersebut diambil alih oleh kaum pria.
Adalah para Dubalang Suku atau pengawal adat yang bertugas meracik bumbu dan memasak hidangan khusus dari bagian tulang serta kepala kerbau. Hal ini melambangkan tanggung jawab kaum laki-laki dalam menjaga dan mengayomi masyarakat serta lingkungan.
Sarana Silaturahmi dan Kegembiraan Rakyat
Suasana di Nagari Simanau semakin semarak dengan hadirnya pertunjukan musik tradisional dan berbagai perlombaan rakyat, seperti panjat pinang dan tarik tambang. Tak hanya warga lokal, ribuan warga dari nagari tetangga pun turut tumpah ruah, menjadikan momen ini sebagai sarana silaturahmi besar setelah hari raya.
Bupati Solok, Jon Firman Pandu, yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap kelestarian budaya ini.
"Alek Lapeh Kawua bukan sekadar perayaan, namun adalah simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Warisan budaya ini harus terus hidup untuk menjaga semangat gotong royong masyarakat," ujarnya.
Simbol Harmoni yang Tak Lekang Zaman
Acara ditutup dengan tradisi makan gulai daging kerbau bersama (makan bajamba) dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Doa tersebut dipanjatkan agar kampung halaman dijauhkan dari marabahaya serta hasil panen padi nantinya melimpah ruah.
Tradisi yang telah dilakukan sejak ratusan tahun silam ini menjadi bukti bahwa di tengah perubahan zaman, masyarakat Simanau tetap kokoh memegang teguh adat istiadat dan nilai kebersamaan.
Editor : Budi Sunandar
Artikel Terkait
