Tragedi Cinta Segitiga di Padang: Preman Tewas Ditikam Sahabat di Kelab Malam
iNews.id, PADANG – Sebuah insiden berdarah mengguncang tempat hiburan malam di kawasan Pondok, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatra Barat. Seorang pria berinisial FG alias Feri Gaek tewas mengenaskan setelah ditikam oleh sahabatnya sendiri, HR alias Hen Raya, pada Minggu (5/4/2026) dini hari.
Peristiwa yang terekam kamera pengawas (CCTV) tersebut diduga kuat dipicu oleh motif cinta segitiga dan cemburu buta.
Kronologi Kejadian
Berdasarkan rekaman CCTV, ketegangan bermula saat korban, Feri Gaek, sedang menghabiskan waktu di kelab malam tersebut bersama istrinya. Tak lama kemudian, muncul pelaku yang mengenakan topi dan kemeja putih. Keduanya sempat terlibat adu mulut sengit di tengah kebisingan musik.
Situasi kian memanas hingga berujung pada aksi penusukan. Korban mengalami luka tusuk serius di bagian leher dan pinggang. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa Feri Gaek tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan.
Motif Cinta Segitiga
Kapolresta Padang melalui Kanit Reskrim Polresta Padang, Iptu Adrian Afandi, mengonfirmasi bahwa pelaku berhasil ditangkap beberapa jam setelah kejadian di tempat persembunyiannya di daerah Jati, Kecamatan Padang Timur.
Dari hasil pemeriksaan sementara, terungkap bahwa pelaku menyimpan perasaan terhadap istri korban. Benih asmara itu muncul saat korban masih mendekam di lembaga pemasyarakatan akibat kasus narkoba.
"Pelaku mengaku gelap mata saat melihat kemesraan korban dengan istrinya di dalam kelab malam tersebut. Rasa cemburu yang memuncak membuatnya nekat melakukan aksi penusukan," ujar Iptu Adrian Afandi dalam keterangannya.
Pendalaman Kasus
Saat ini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terhadap saksi-saksi, termasuk istri korban, untuk mencari tahu apakah ada keterlibatan pihak lain dalam perencanaan aksi tersebut.
Atas perbuatannya, Hen Raya kini mendekam di sel tahanan Polresta Padang dan dijerat dengan pasal pembunuhan. Pelaku terancam hukuman penjara di atas sepuluh tahun.
Editor : Budi Sunandar