Selain itu, Pemerintah Kota Bukittinggi juga menggelar seminar nasional yang melibatkan berbagai tokoh bangsa dan akademisi. Hasil seminar tersebut dibukukan sebagai dokumen pendukung yang diharapkan dapat memperkuat dasar akademis dan yuridis usulan status daerah khusus.
Penyusunan naskah akademik bersama Forum Cendekia IASMA juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Kajian itu menegaskan bahwa status khusus yang diusulkan tidak berkaitan dengan pemekaran daerah, melainkan bertujuan memperkuat regulasi dan perlindungan terhadap nilai-nilai sejarah yang dimiliki Bukittinggi sebagai kota perjuangan.
Pemerintah Kota Bukittinggi juga memanfaatkan berbagai momentum strategis untuk mengkampanyekan nilai sejarah kota tersebut. Perayaan 100 Tahun Jam Gadang dan pelaksanaan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) menjadi sarana memperkenalkan peran historis Bukittinggi kepada masyarakat nasional maupun internasional.
Di tingkat regional, Pemko Bukittinggi turut membangun sinergi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat guna menyamakan visi dalam memperjuangkan pengakuan terhadap Bukittinggi sebagai daerah yang memiliki kontribusi penting dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias bersama Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah usai pernyataan dukungan terhadap wacana penetapan Bukittinggi sebagai Daerah Istimewa berbasis sejarah PDRI, Selasa (20/1/2026). (Foto: Istimewa).
Dalam kajiannya, Forum Cendekia dan Akademisi IASMA Birugo juga menyebut Indonesia pernah memiliki empat kota yang berperan sebagai ibu kota negara, yakni Jakarta, Yogyakarta, Bukittinggi, dan Ibu Kota Nusantara (IKN). Berdasarkan perspektif tersebut, forum menilai Bukittinggi layak memperoleh perhatian dan penguatan peran yang proporsional melalui status khusus.
"Pengakuan terhadap kekhususan Bukittinggi merupakan bentuk penghormatan negara terhadap daerah yang memiliki kontribusi nyata dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia pada masa paling kritis dalam sejarah bangsa," demikian salah satu poin yang tertuang dalam kajian tersebut.
Selain memiliki nilai historis yang kuat, Bukittinggi saat ini juga menjalankan fungsi strategis sebagai pusat perdagangan, pendidikan, budaya, jasa, dan pariwisata di Sumatera Barat. Peran regional tersebut dinilai membutuhkan tata kelola yang lebih adaptif untuk menghadapi tantangan pembangunan di masa depan.
Editor : Wahyu Sikumbang
Artikel Terkait
