“Minangkabau memiliki hubungan yang sangat erat dengan tradisi literasi sejak dahulu. Budaya alam takambang jadi guru telah membentuk karakter masyarakat yang gemar belajar, berdiskusi, menulis, dan merantau untuk mencari ilmu,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Ramlan Nurmatias menilai IMLF menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan seni dan budaya yang telah berkembang di Bukittinggi selama puluhan tahun.
Menurutnya, pembangunan peradaban tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui pelestarian nilai budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya. “Peradaban yang dibangun di Bukittinggi ini tidak terlepas dari bagaimana kita memelihara seni dan budaya ini dan meneruskannya kepada anak cucu kita,” ujarnya.
Ramlan juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, yang turut berkontribusi dalam penyelenggaraan festival berskala internasional tersebut.
Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias bersama Wakil Wali Kota dan Sekda Bukittinggi usai menyambut delegasi dari 36 negara yang menghadiri International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 2026 di Bukittinggi, Kamis (4/6/2026). (Foto: Istimewa)
Ketua International Minangkabau Literacy Festival sekaligus Ketua Perkumpulan Penulis Indonesia (Satu Pena) Sumatera Barat, Sastri Bakry, mengatakan seluruh delegasi mendapatkan dukungan penuh selama mengikuti rangkaian kegiatan di Bukittinggi. “Wali Kota Bukittinggi total memfasilitasi kita dan semua enjoy. Dari 36 negara, semuanya menikmati makanan dan pertunjukannya,” katanya.
Sastri menjelaskan IMLF ke-4 menghadirkan sejumlah seminar internasional yang mengangkat Jam Gadang dari berbagai perspektif. Para pembicara berasal dari berbagai negara, di antaranya Australia, Jerman, Inggris, dan Indonesia.
Selain membahas kebudayaan Minangkabau, bahasa, dan sastra, festival juga mengangkat isu perkembangan teknologi melalui seminar yang membahas kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Editor : Wahyu Sikumbang
Artikel Terkait
