Salah satu juri, Budi, menegaskan bahwa penilaian didasarkan pada keaslian tradisi, durasi permainan, dan disiplin. “Yang paling utama adalah tetap membawakan tradisi, seperti lagu Atam Maninjau atau Atam Pariaman. Durasi juga dibatasi 10–15 menit. Kalau kurang atau lebih, peserta bisa didiskualifikasi,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar lomba, penilaian juri dari ISI Padang Panjang memastikan generasi muda tidak kehilangan jejak warisan budaya leluhur. Foto: Wahyu Sikumbang
Dengan dukungan masyarakat, sekolah, dan pemerintah, Festival Tambua Tansa tidak hanya menjadi panggung kreasi anak-anak, tetapi juga simbol kebanggaan atas warisan budaya Minangkabau.
Kegembiraan yang terpancar dari wajah para peserta seakan menegaskan bahwa tradisi ini masih hidup dan akan terus bergema di tengah generasi muda Bukittinggi.
Editor : Wahyu Sikumbang
Artikel Terkait
