LIMAPULUH KOTA,inews Padang.id-Proyek Embung Talago di Jorong Sikabu-kabu, Nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang (Sitapa), Kecamatan Luhak, Kabupaten Limapuluh Kota, kembali menjadi perhatian. Infrastruktur sumber daya air senilai Rp7,8 miliar yang dibiayai APBN itu belum sepenuhnya berfungsi meski rampung sejak 2020.
Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Muhibuddin, turun langsung meninjau kondisi embung tersebut. Didampingi Kepala Kejaksaan Negeri Payakumbuh Ulil Azmi serta jajaran, rombongan berjalan kaki sekitar 200 meter menuju lokasi untuk melihat kondisi fisik kolam, pintu air, dan lingkungan sekitar.
Muhibuddin menegaskan bahwa kunjungan tersebut bukan bagian dari proses penyidikan tindak pidana korupsi.
"Kita bukan masalah dugaan korupsi. Proyek ini sudah selesai dan dibangun dengan bagus. Persoalannya, setelah selesai pada 2020, belum ditindaklanjuti dengan serah terima kepada Pemerintah Kabupaten," jelas Muhibuddin.
Menurutnya, hambatan utama terletak pada aspek administrasi yang belum tuntas, sehingga pemanfaatan embung belum maksimal.
“Kami datang supaya ini bisa ditindaklanjuti penyerahannya, sehingga bisa jadi penampungan air dan bermanfaat bagi masyarakat," tegasnya.
Kajari Payakumbuh, Ulil Azmi, menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan ekspose di Kejati Sumbar. Dari pembahasan tersebut, disepakati perlunya perbaikan pada bagian yang mengalami kerusakan agar fungsi embung kembali optimal.
"Berdasarkan informasi dari kawan-kawan, kami tindaklanjuti dan ekspose. Bapak Kajati berpendapat agar (embung) segera diperbaiki karena akan jauh lebih bermanfaat untuk masyarakat daripada dibiarkan," kata Ulil.
Di sisi lain, Walinagari Sitapa, Nofrizal, mengakui masyarakat belum merasakan manfaat signifikan dari keberadaan embung tersebut.
"Dampaknya belum ada karena pipanisasi dan irigasi belum tersedia. Saat ini baru terasa untuk lingkungan, seperti munculnya kembali sumber-sumber air di sekitar lokasi setelah adanya embung," ungkapnya.
Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V Padang, Naryo Widodo, menjelaskan bahwa embung sebenarnya sempat terisi air. Namun pintu air mengalami kerusakan akibat ulah oknum warga yang khawatir terhadap kekuatan konstruksi.
"Saat hujan deras, ada oknum masyarakat yang merasa takut akan kekuatan dinding embung, lalu mereka membuka paksa pintu air sehingga rusak. Namun sekarang sudah diperbaiki dan sudah mulai digenangi kembali," jelas Naryo.
Ia menyebutkan pihaknya akan memantau debit air dalam beberapa hari ke depan guna memastikan embung berfungsi sebagaimana mestinya.
Dari pantauan di lapangan, genangan air mulai terlihat sesaat sebelum rombongan tiba. Warga berharap, setelah kunjungan ini, embung yang telah menghabiskan anggaran miliaran rupiah itu benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bagi pertanian dan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar bangunan beton yang menunggu fungsi.
Editor : Agung Sulistyo
Artikel Terkait
