AGAM, iNEWSPadang.ID — Lebih dari sebulan pascabanjir bandang melanda Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Jumat (2/1/2026), sejumlah pengungsi masih bertahan di tenda dengan kondisi penerangan yang minim pada malam hari.
Tiga tenda pengungsian yang berdiri di halaman tempat penjemuran penggilingan padi Mustika Tani, Jalan Padang Koto Gadang, Nagari Salareh Aia, kerap diliputi kegelapan karena tidak adanya lampu penerangan jalan di sekitar lokasi.
Meski aliran listrik rumah warga di sekitar pengungsian telah kembali menyala, ketiadaan lampu jalan membuat aktivitas pengungsi, relawan, dan petugas menjadi terbatas saat malam.
Untuk beraktivitas, mereka terpaksa mengandalkan cahaya senter. Kondisi ini dirasakan semakin menyulitkan karena lokasi pengungsian berada di jalur yang rawan dilalui warga.
Yance Cakai, salah seorang pengungsi, mengatakan kebutuhan mendesak saat ini bukan lagi listrik rumah, melainkan penerangan jalan di sekitar tenda.
“Kalau untuk rumah-rumah sudah menyala di sini, tapi yang kami butuhkan sekarang penerangan jalan. Suasananya masih gelap, tidak ada lampu penerangan jalan. Di tiga tenda ini ada 32 orang pengungsi. Harapan kami sebagai warga korban bencana ini bisa segera mendapatkan tempat tinggal,” ujarnya.
Situasi semakin berat karena hujan masih sering mengguyur kawasan Palembayan. Cuaca ekstrem itu memicu longsor dan banjir susulan di sejumlah titik, bahkan ada longsor yang menutup badan jalan dan menghambat akses warga.
Kondisi tersebut dialami Andre Fernandes, warga setempat, yang bersama istri dan anaknya yang berusia 22 bulan terpaksa bermalam di dalam tenda yang berada di bak belakang mobil pikap miliknya.
“Tadinya niat ke sini mau jemput bantuan BLT, tapi pas sampai kampung ini terkurung karena di daerah Kayu Pasak ada longsor, jadi tidak bisa ke mana-mana lagi,” kata Andre. Saat ini ia mengungsi di Rumah Singgah di Lubuk Basung, namun masih harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan luka di kakinya.
Para pengungsi berharap dapat segera meninggalkan tenda darurat dan menempati hunian sementara atau huntara. Namun, hingga kini pembangunan huntara masih terkendala cuaca, sehingga target hunian pada 5 Januari belum dapat dipastikan tercapai. Di tengah ketidakpastian itu, pengungsi berharap perhatian segera diberikan, setidaknya dengan penyediaan lampu penerangan jalan agar malam hari di pengungsian tidak lagi dilalui dalam kegelapan.
Editor : Wahyu Sikumbang
Artikel Terkait
