Puluhan Ribu Keluarga Masuk Desil 1–4, Agam Perkuat Program Pengentasan Kemiskinan
Dalam pemaparannya, Irman menawarkan enam strategi untuk menggerakkan ekonomi nagari. Pertama, orkestrasi multipihak dengan menyatukan sasaran, pembagian peran, dukungan, dan tenggat waktu pelaksanaan.
Kedua, membangun kemitraan ranah-rantau dengan menghubungkan keahlian dan jejaring perantau dengan kebutuhan nagari. Lalu, membentuk holding dan promosi kolektif untuk mengintegrasikan produksi, pengolahan, serta pemasaran antarnagari.
Selanjutnya, pemberdayaan komunitas melalui peningkatan keterampilan dan pendampingan yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga. Kelima, mengoptimalkan pembiayaan dan zakat produktif melalui sumber pendanaan yang saling melengkapi sesuai peruntukannya.
Keenam, mendorong inovasi lokal melalui riset terapan dan inkubator usaha untuk meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat.
Irman juga memaparkan pentingnya pendekatan kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) dalam pengentasan kemiskinan. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga didorong memiliki kemampuan menghasilkan pendapatan secara mandiri.

Potensi nagari, seperti pertanian, jasa, kuliner, dan pariwisata, dinilai dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan masyarakat apabila didukung pengelolaan dan pendampingan yang tepat.
Ia berharap, menjelang akhir masa pemerintahan bupati saat ini sekitar 2030, posisi Kabupaten Agam dalam jumlah penduduk miskin dapat membaik secara signifikan. Target yang disampaikan adalah membawa Agam masuk jajaran tiga besar, bahkan dua besar terbaik, dari 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat.
Dalam seminar tersebut juga dipaparkan data kelompok kesejahteraan masyarakat berdasarkan desil. Tercatat sebanyak 66.102 kepala keluarga (KK) atau 232.404 jiwa berada pada Desil 1–4. Sementara itu, jumlah masyarakat pada Desil 1–5 mencapai 83.948 KK atau 288.934 jiwa.
Data tersebut menjadi salah satu bahan pembahasan dalam merumuskan kebijakan dan program pengentasan kemiskinan berbasis nagari.
Editor: Wahyu Sikumbang