Puluhan Ribu Keluarga Masuk Desil 1–4, Agam Perkuat Program Pengentasan Kemiskinan
Materi seminar turut menguraikan lima pilar utama pengentasan kemiskinan dalam Rencana Induk 2025–2029, yakni sistem penargetan nasional melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), perlindungan sosial, graduasi kemiskinan, pemberdayaan ekonomi, serta integrasi pendanaan pengentasan kemiskinan.
Kelima pilar tersebut diarahkan untuk memastikan program perlindungan dan pemberdayaan masyarakat berjalan lebih terukur, tepat sasaran, serta mendorong keluarga miskin mencapai kemandirian ekonomi.
Persoalan pengentasan kemiskinan juga mendapat perhatian dari sisi potensi ekonomi nagari. Salah seorang peserta seminar, Zulkarnain, Wali Nagari Batagak, Kecamatan Sungai Pua, menyampaikan bahwa sektor hortikultura menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat di wilayahnya.
Berada di kaki Gunung Singgalang, Nagari Batagak memiliki lahan pertanian yang mendukung produksi sayuran. Sebagian besar masyarakat setempat menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian, terutama budidaya sayuran.
Namun, potensi tersebut menghadapi kendala infrastruktur. Zulkarnain menyebut sejumlah saluran irigasi terputus dan jalan usaha tani mengalami kerusakan akibat bencana alam dalam beberapa bulan terakhir.

Menurutnya, perbaikan jalan dan irigasi menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga kelancaran aktivitas pertanian sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.
Selama ini, hasil pertanian Nagari Batagak dipasarkan ke sejumlah pasar, antara lain Pasar Jumat, Pasar Padang Lua, dan Pasar Kota Baru.
Kelompok tani setempat juga pernah berupaya memperluas pemasaran ke luar daerah melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Namun, upaya tersebut sempat terhenti karena persoalan pembayaran dari pembeli di daerah tujuan yang tidak berjalan lancar.
Selain pertanian, pengembangan pariwisata juga pernah menjadi salah satu gagasan untuk meningkatkan ekonomi nagari, termasuk potensi wisata air terjun atau Aia Tajun.
Meski demikian, Zulkarnain mengungkapkan pengembangan pariwisata berbasis nagari masih menghadapi tantangan, terutama terkait penerimaan masyarakat terhadap konsep pariwisata, dukungan tokoh adat dan masyarakat, serta ketersediaan lahan.
Editor: Wahyu Sikumbang