AGAM, iNEWSPADANG.ID — Sejumlah wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, hingga kini masih terisolir akibat keterbatasan alat berat dan personel di lapangan.
Kondisi tersebut membuat proses evakuasi dan penyaluran bantuan berlangsung lambat, terutama di kawasan yang tertutup material longsor.
Di Nagari Sungai Landia, Kecamatan Ampek Koto, petugas harus berjalan kaki mendaki tumpukan longsor setinggi sekitar 35 meter untuk mengantarkan makanan kepada warga yang terjebak.
Perjalanan dilakukan dengan peralatan terbatas, dan medan yang licin membuat proses distribusi semakin menantang.
Sejumlah anggota Pramuka membantu warga membersihkan halaman rumah dari bebatuan dan lumpur sisa galodo yang menimbun kawasan pemukiman di Galudua, Kecamatan IV Koto, Minggu (30/11/2025). Foto: Wahyu Sikumbang
Sementara itu, puluhan pelajar Pramuka dikerahkan untuk membantu membersihkan permukiman warga dari bebatuan dan lumpur sisa banjir bandang.
Mereka bergotong-royong bersama relawan serta warga setempat agar pemukiman bisa segera dihuni kembali.
Kapolresta Bukittinggi, Kombes Pol Ruly Indra Wijayanto, mengatakan bahwa beberapa titik masih berada dalam kondisi kritis dan sulit dijangkau.
Editor : Wahyu Sikumbang
Artikel Terkait
