Kondisi tersebut dialami Andre Fernandes, warga setempat, yang bersama istri dan anaknya yang berusia 22 bulan terpaksa bermalam di dalam tenda yang berada di bak belakang mobil pikap miliknya.
“Tadinya niat ke sini mau jemput bantuan BLT, tapi pas sampai kampung ini terkurung karena di daerah Kayu Pasak ada longsor, jadi tidak bisa ke mana-mana lagi,” kata Andre. Saat ini ia mengungsi di Rumah Singgah di Lubuk Basung, namun masih harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan luka di kakinya.
Para pengungsi berharap dapat segera meninggalkan tenda darurat dan menempati hunian sementara atau huntara. Namun, hingga kini pembangunan huntara masih terkendala cuaca, sehingga target hunian pada 5 Januari belum dapat dipastikan tercapai. Di tengah ketidakpastian itu, pengungsi berharap perhatian segera diberikan, setidaknya dengan penyediaan lampu penerangan jalan agar malam hari di pengungsian tidak lagi dilalui dalam kegelapan.
Editor : Wahyu Sikumbang
Artikel Terkait
